Hutan adalah kumpulan beberapa tegakan yang didalamnya terbentuk iklim mikro dan terbentuk ekosistem yang sangat berguna bagi kelangsungan mahluk hidup. apabila hutan mengealami keruasakan maka secara tidak langsung akan merusak ekosistem yang ada. hal itu terbukti skarang ini terjadi kerusakan hutan yang sngat besar. akibatnya kita dapat merasakan dampaknya, berupa terbentuknya gas rumah kaca sehingga menyebabkan terjadinya perubahan iklim. indonesia yang mempunyai luas hutan sebanyak 120 juta hektar kini mengalami kerusakan yang sangat parah. pada tahun 2000 saja telah terjadi kerusakan hutan sebesar 93 juta hektar. penyebabnya yaitu tingkah laku manusia yang masih memandang hutan hanya sebagai pemuas keserakahan manusia (antroposentisme). pemikiran seperti ini sangat membantu dalam proses pengerusakan hutan. manusia hanya memandang hutan sebagai sesuatu yang mempunyai nilai ekonomi yang besar, sehingga eksploitasi besar-besaranpun dilakukan secara sadar tanpa tahu apa yang akan terjadi kedepannya. inilah kenyataan sifat manusia yang sebenarnya. semuanya atas dasar UANG.

Manajemen beda pendapat

Manajemen Beda Pendapat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ *

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-Anfal/8: 45-47)

Tiga ayat surah al-Anfal di atas menawarkan resep kemenangan menghadapi musuh. Resep pada tiga ayat tersebut secara berurut: teguh di hadapan musuh, menjalin hubungan dengan Allah dengan banyak berzikir, taat pada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam, tidak berbantah-bantahan, dan sabar terhadap konsekuensi perjuangan. Juga, berhati-hati dari sikap sombong, riya’ dan perilaku aniaya.

Resep kemenangan tersebut bukan sekadar teori. Resep tersebut telah terbukti efektif. Sahabat-sahabat Nabi, orang-orang pertama yang mengamalkan Al-Qur’an membuktikannya. Mereka berhasil memancangkan panji Islam, dengan pedang dan dakwah, di tiga benua tua planet Bumi ini hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga puluh tahun. Semua itu, dengan segala keterbatasan senjata dan fasilitas yang mereka miliki. Jauh berbeda keadaannya dengan masyarakat dan tentara dari imperium-imperium yang mereka tundukkan. (Tafsir Ibni Katsir, IV/72)

Ayat-ayat di atas juga mengisyaratkan penyebab kekalahan. Kekalahan terjadi karena rasa gentar dan lenyapnya kekuatan. Penyebab timbulnya rasa gentar dan lenyapnya kekuatan tidak datang dari luar. Dia penyakit yang justru datang dari dalam. Al-Qur’an mendefenisikan penyakit tersebut sebagai: berbantah-bantahan.

Keterpurukan umat Islam dewasa ini, dalam pelbagai bidang kehidupan dan agama, juga berawal dari penyakit tersebut. Sulit untuk mengatakan bahwa umat Islam kini bersatu. Fakta di lapangan menunjukkan, umat Islam lebih banyak ”ribut” di kalangan mereka sendiri.

Persoalannya bukan pada terjadinya perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat di kalangan umat dalam masalah ijtihadiyah adalah perkara lumrah. Di zaman Nabi, zaman keemasan dan periode normatif Islam, perbedaan pendapat telah terjadi. Tapi umat tetap bersatu. Sebab, perbedaan pendapat waktu itu tidak dijadikan sumber perpecahan.

Lantaran itu, untuk mempersatukan umat, yang diperlukan bukanlah bagaimana menghapus perbedaan pendapat. Karena itu mustahil terjadi. Tapi, bagaimana memenej perbedaan tersebut ke arah positif dan mashlahat.

Para ulama memberikan pedoman bagaimana menyikapi perberbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyah (Ma’alim Ushulil Fiqh, h. 492-493). Berikut ini rinciannya:

1.Tidak Menganggap Sesat Pihak Lain Yang Berbeda Pendapat
Dalam masalah ijtihadiyah, masing-masing pihak sebenarnya berangkat dari niat luhur yang sama: ketaatan pada Allah. Hanya saja, tabiat masalah ijtihadiyah memang ”memaksa” masing-masing pihak untuk tidak sampai pada satu kesimpulan yang sama. Karena itu, setelah pengerahan upaya yang maksimal untuk mencapai kebenaran, tidak ada yang dapat dipersalahkan atau dianggap sesat.

Termasuk kategori menganggap sesat pihak lain adalah membid’ahkan, menganggap fasiq, atau mengkafirkan pihak lain yang berbeda pendapat.

Nabi shallallahu ’alaihi wasallam pernah mencontohkan sikap ini. Ibnu Umar menceritakan bahwa sehabis perang Ahzab, Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabat untuk menyerang Yahudi Bani Quraizhah yang melanggar perjanjian damai. Sebelum berangkat, Nabi berpesan, ”Tidak ada yang boleh shalat Ashar kecuali di tempat Bani Quraizhah.”

Dalam perjalanan, waktu shalat Ashar masuk. Sahabat-sahabat berbeda pendapat, antara shalat di jalan atau shalat di tempat tujuan. Akhirnya, masing-masing kelompok shalat dengan ijtihadnya sendiri. Sekelompok melakukan shalat Ashar di jalan, sementara yang lain melakukan shalat di tempat Bani Quraizhah.

Ketika perang usai, peristiwa tersebut diceritakan kepada Nabi. Bagaimana sikap Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam? Beliau tidak mencela seorang pun dari sahabat. (HR. Bukhari-Muslim)
Pendapat kedua kelompok sahabat itu tentu ada yang benar dan ada yang salah. Namun, Rasulullah sama sekali tidak mencela mereka.

2.Melakukan Dialog Yang Sehat dan Saling Pengertian

Idealnya, perbedaan pendapat tidak perlu terjadi. Tapi, dalam masalah-masalah ijtihadiyah, perbedaan pendapat kerap tidak bisa dihindari. Baik karena dalil yang memang berpeluang untuk ditafsirkan berbeda, atau karena tingkat pemahaman manusia yang memang tidak sama.

Namun, bukan berarti perbedaan pendapat kemudian dibiarkan. Usaha untuk memperkecil ruang perbedaan di antara umat tetap harus dilakukan. Caranya, dialog yang sehat dengan saling menghargai antara pihak-pihak yang berbeda.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah menulis, ”Oleh karena itu, ulama yang membahas Amar Ma’ruf Nahi Mungkar menegaskan bahwa perkara-perkara ijtihadiyah tidak boleh diingkari dengan tangan (kekerasan), dan tidak seorang pun yang boleh memaksa orang lain untuk mengikuti pendapatnya. Maksimal yang bisa dia lakukan adalah mengemukakan dalilnya secara ilmiah.” (Majmu’ Fatawa, XXX/80)

3.Tidak Memaksakan Pendapat
Ijtihad adalah upaya manusiawi. Hasilnya pun bersifat nisbi atau relatif. Sifat ma’shum (suci dari dosa dan kesalahan) hanya diberikan Allah kepada para nabi dan rasul. Karena itu, seorang mujtahid tidak mungkin memaksakan pendapatnya kepada orang lain.

”Ma’shum tidak terjadi selain pada para nabi ’alaihimus salam,” tegas Ibnu Taimiyah, ”semua orang selain nabi dapat diterima atau ditolak pendapatnya. Tidak ada seorang pun yang wajib ditaati dalam setiap perkataannya kecuali para nabi dan rasul, tidak pula wajib bagi manusia untuk mengikutinya.” (Majmu’ Fatawa, XXXV/120)

4.Tidak Fanatik Buta
Pendapat seseorang boleh jadi telah jelas keliru. Karena bertentangan dengan dalil-dalil syariat. Tapi, pengikut-pengikut orang itu bersikukuh bahwa pendapat itu benar. Sikap ini disebut fanatik buta atau ta’asshub.

Ulama-ulama mujtahid dahulu mewanti-wanti pengikutnya agar tidak terjebak kepada sikap fanatik ini. Mereka yakinkan murid-murid mereka bahwa mereka tetaplah manusia biasa. Bisa benar dan bisa pula salah.

Imam Malik berkata, ”Aku hanyalah manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah. Periksalah pendapat-pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, ambil. Bila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkan.” (Al Wajiiz, h. 162)

Para ulama itu mengingatkan, ikutan mereka dalam berpendapat adalah dalil, Al-Qur’an dan Sunnah. Sehingga mereka selalu siap memperbaiki pendapat mereka bila ternyata salah.

Imam Syafi’i, ”Setiap perkara yang di dalamnya ada hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, menurut ahli hadits, yang bertentangan dengan pendapatku, aku revisi, baik semasa hidupku atau setelah matiku.” (Al Wajiiz, h. 162)

Al-Qur’an telah menegaskan pula hal ini. Firman Allah, ”Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (QS. Al A’raf: 3)

5.Masing-masing Pihak Berhak Mengamalkan Pendapat Sesuai Dalil Yang Diketahuinya
Sebagai konsekuensi dari pengakuan terhadap relativitas kebenaran dalam masalah-masalah ijtihadiyah, masing-masing pihak tidak boleh dihalangi untuk beramal sesuai dengan hasil ijtihadnya. Tentu dengan catatan bahwa pihak-pihak yang berbeda telah berusaha sebatas kemampuannya untuk menemukan pendapat yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Peristiwa perang Bani Quraizhah di atas mendalilkah hal ini. Sahabat-sahabat akhirnya melaksanakan shalat sesuai dengan pendapatnya sendiri tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Peristiwa tersebut kemudian mendapat legitimasi dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam.

6.Menghindari Pendapat-Pendapat Syadz atau Jelas Kekeliruan Argumentasinya
Harus segera ditambahkan bahwa tidak semua perkara ijtihadiyah berarti nisbi, sehingga setiap mujtahid bebas untuk memilih pendapat-pendapat yang ada. Kenyataannya, beberapa perkara ijtihadiyah telah final. Artinya, pendapat yang benar dan salah dalam persoalan tersebut telah jelas. Sehingga ruang untuk berbeda pendapat tidak ada lagi.

Perkara ijtihadiyah yang telah final ini umumnya berupa ijtihad ulama yang keliru, semata karena ulama tersebut belum tahu dalil. Adapun setelah umumnya masalah ijtihadiyah telah dikodifikasikan serta diketahui dalil-dalilnya, keadaannya menjadi lain. Masalah tersebut dianggap ijtihadiyah terbatas hanya pada masanya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Ibnu Qayim al Jauziyah mencatat, ”Persoalan-persoalan yang diperselisihkan ulama salaf dan khalaf, tapi telah kita pastikan kebenaran salah satu pendapat, banyak jumlahnya. Seperti, habisnya masa iddah wanita hamil dengan persalinan, bersetubuh dengan suami kedua sebagai syarat untuk halalnya dia bagi suami pertama setelah ditalak, mandi junub wajib karena bersetubuh walaupun tidak keluar mani, riba fadhl hukumnya haram . . . .” (I’lamul Muwaqqi’in, III/288)

Pendapat-pendapat yang jelas keliru tersebut dikenal sebagai pendapat syadz atau disebut sebagai zallah (ketergelinciran) ulama. Ulama tetaplah manusia. Kekeliruan yang tidak disengaja tetaplah hal yang wajar terjadi. Di sinilah umat dituntut untuk tetap bijak dalam bersikap terhadap ulama mereka. Wallahu ta’ala a’lam.(Al Bashirah Edisi 06 Tahun II Kolom Tafsir, oleh Ilham Jaya Abdurrauf, Lc)

Surat Seorang Ibu kepada Anak Durhaka

SURAT IBU KEPADA ANAK DURHAKA

Wahai Anakku!
Inilah surat dari ibumu yang lemah, yang ditulis dengan penuh rasa malu setelah lama mengalami keraguan dan kebimbangan. Ibu pegang penanya berkali-kali lantas terhenti, dan ibu letakkan lagi pena itu karena air mata berlinang berkali-kali yang disusul dengan rintihan hati.

Wahai Anakku!
Sesudah perjalanan waktu yang panjang, ibu rasa engkau sudah dewasa dan memiliki akal sempurna maupun jiwa yang matang. Sedangkan ibu punya hak atas dirimu, maka bacalah sepucuk surat ini; dan jika tidak berkenan robek-robeklah sebagaimana engkau telah merobek-robek hati ibu.

Wahai Anakku!
Dua puluh lima tahun yang lalu adalah hari yang begitu membahagiakan hidup ibu. Ketika dokter memberitahu ibu, ibu sedang mengandung. Semua ibu tentu mengetahui makna ungkapan itu, yakni terhimpunnya kebahagiaan dan kegembiraan, serta awal perjuangan seiring dengan adanya berbagai perubahan fisik maupun psikis. Sesudah berita gembira itu ibu peroleh, dengan senang hati, ibu mengandungmu selama sembilan bulan.

Ibu berdiri, tidur, makan dan bernafas dengan susah payah. Namun itu semua tidak menyebabkan surutnya cinta ibu padamu dan kebahagiaan ibu menyambut kehadiranmu. Bahkan rasa cinta dan kerinduan ibu padamu tumbuh subur dan berkembang hari demi hari. Ibu mengandungmu dalam kondisi yang lemah dan bertambah lemah, payah dan bertambah payah. Ibu sangat bahagia meski bobotmu semakin berat, padahal kehamilan itu sangat berat bagi ibu.

Itulah perjuangan yang akan disusul dengan cahaya fajar kebahagiaan setelah berlalunya malam panjang, yang membuat ibu tidak bisa tidur dan kelopak mata ibu tak bisa terpejam. Ibu merasakan derita yang sangat, rasa takut dan cemas yang tak bisa dilukiskan dengan pena dan tak sanggup diungkapkan dengan retorika lisan. Ibu telah berkali-kali melihat kematian dengan mata kepala ibu sendiri, sehingga akhirnya engkau lahir ke dunia ini. Air mata tangismu yang bercampur dengan air mata kegembiraan ibu telah menghapus seluruh derita dan luka yang ibu rasakan.

Wahai Anakku!
Telah berlalu tahun demi tahun dari usiamu, dan dirimu selalu ibu bawa dalam hati ibu. Ibu memandikanmu dengan kedua tangan ibu. Pangkuan ibu sebagai bantalmu. Dada ibu sebagai makananmu. Ibu berjaga semalaman agar engkau bisa tidur. Ibu susuri siang hari dengan keletihan demi kebahagiaanmu. Dambaan ibu tiap hari adalah melihatmu tersenyum. Dan idaman ibu setiap saat adalah engkau meminta sesuatu yang ibu sanggup lakukan untukmu. Itulah puncak kebahagiaan ibu.

Itulah hari-hari dan malam yang ibu lalui sebagai pelayan yang tak pernah menyia-nyiakanmu sedikit pun. Sebagai wanita yang menyusuimu tiada henti, dan sebagai pekerja yang tak pernah putus hingga engkau tumbuh dan menjadi seorang remaja. Dan mulailah nampak tanda-tanda kedewasaanmu. Ketika itu pula, ibu kesana kemari mencarikan calon istri yang kau inginkan. Lalu tibalah saat pernikahanmu. Denyut jantung ibu terasa berhenti dan air mata ibu deras bercucuran karena gembira melihat hidup barumu dan karena sedih berpisah denganmu.

Saat-saat yang begitu berat telah lewat. Namun engkau seolah bukan lagi anak ibu, seperti yang ibu kenal selama ini. Sungguh engkau telah mengabaikan diri ibu dan tidak mempedulikan hak-hak ibu. Hari-hari berlalu dan ibu tidak lagi melihatmu dan tidak pula mendengar suaramu. Engkau masa bodoh kepada ibu yang selama ini menjadi pelayan yang mengurusimu.

Wahai Anakku!
Ibu tidak meminta apa pun selain posisikanlah diri ibu ini seperti kawan-kawanmu yang terdekat denganmu. Jadikanlah ibu sebagai salah satu terminal hidupmu sehari-hari, sehingga ibu dapat melihatmu meskipun sekejap.

Wahai Anakku!
Punggung ibu telah bongkok. Anggota tubuh ibu telah gemetaran. Beragam penyakit telah membuat ibu semakin ringkih. Rasa sakit senantiasa mendera ibu. Ibu sudah susah untuk berdiri maupun duduk, namun hati ibu masih sayang padamu.

Andaikan ada seseorang yang memuliakanmu sehari, tentu engkau akan memuji kebaikannya dan keelokan budinya. Padahal, ibumu ini telah benar-benar berbuat baik kepadamu, namun engkau tak melihatnya dan tak mau membalas kebaikannya. Ibumu telah menjadi pelayanmu dan telah mengurusmu bertahun-tahun. Lantas manakah balas budi dan hak ibu yang harus engkau tunaikan? Sekeras itukah hatimu? Apakah hari-hari sibukmu telah menyita seluruh waktumu?

Wahai Anakku!
Ibu merasakan kebahagiaan dan kegembiraan bertambah saat melihatmu hidup bahagia, karena engkau adalah buah hati ibu. Apa salah ibu sehingga engkau memusuhi ibu, tak suka melihat ibu, dan engkau merasa berat untuk mengunjungi ibu? Apakah ibu pernah berbuat salah padamu atau pelayanan ibu kurang memuaskanmu?

Jadikanlah ibu seperti pelayan-pelayanmu yang engkau beri upah. Curahkanlah setitik kasih sayangmu. Renungkanlah jasa ibu dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah amat menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Wahai Anakku!
Ibu sangat berharap bisa bersua denganmu. Ibu tak ingin apapun selain itu. Biarkanlah ibu melihat muramnya wajahmu dan episode-episode kemarahanmu.

Wahai Anakku!
Sisakan peluang di hatimu untuk berlembut-lembut dengan seorang wanita renta, yang diliputi kerinduan dan dirundung kesedihan ini. Yang menjadikan kedukaan sebagai makanannya dan kesedihan sebagai selimutnya. Engkau cucurkan air matanya. Engkau membuat sedih hatinya dan engkau memutuskan hubungan dengannya.

Ibu tidak mengeluhkan kepedihan dan kesedihan ibu kehadirat-Nya, karena jika ibu adukan perkara ini ke atas awan dan ke pintu gerbang langit sana, ibu khawatir hukuman akan menimpamu, dan musibah akan terjadi dalam rumah tanggamu, lantaran kedurhakaanmu. Karena ibu teringat peringatan junjungan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Maukah kalian aku sampaikan tentang dosa yang terbesar?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengucapkannya tiga kali. Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhari).

“Tidak masuk surga orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.” (HR. Ahmad).

“Tiga golongan orang yang tidak akan dilihat (dengan pandangan rahmat) oleh Allah pada hari kiamat; orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang suka minum minuman keras, orang yang suka mengungkit pemberiannya.” (HR. Nasaai dan dinyatakan shahih oleh Albani).

“Terlaknat orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.” (HR. Hakim dan Thobrani serta dinyatakan shahih oleh Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib, 2/334).

Tidak, ibu tidak menginginkan itu. Engkau tetap menjadi buah hati dan hiasan dunia ibu.

Camkanlah wahai Anakku!
Ketuaan mulai nampak dalam belahan rambutmu. Tahun demi tahun akan berlalu, dan engkau akan menjadi tua renta, sedangkan setiap perbuatan pasti akan dibalas setimpal. Engkau akan menulis surat kepada setiap anak-anakmu dengan cucuran air mata, sebagaimana yang ibu tulis untukmu. Dan di sisi Allah, akan bertemu orang-orang yang berselisih, hai Anakku. Maka bertakwalah engkau kepada Allah terhadap ibumu. Usaplah air matanya dan hiburlah agar kesedihannya sirna.

Robek-robeklah surat ini setelah engkau membacanya. Namun ketahuilah, siapa saja yang beramal shaleh, maka keshalehan itu buat dirinya sendiri, dan siapa yang berbuat jahat, maka balasan buruk bakal menimpanya.

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat jahat, maka (dosanya) menjadi tanggungannya sendiri. Dan Rabbmu sekali-kali tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushshilat: 46).

Bahan rujukan: Qashash Mu’atstsirah fi Birr wa ‘Uquqil Walidain (terjemahan) karya Fathurrahman Muhammad Jamil, dan lain-lain. (Al Fikrah)

Jihad = teroris ?

Jihad=Terorisme?

Meng-identikkan terorisme dengan jihad adalah keliru. Sama kelirunya meng-identikkan antara terorisme dengan Islam. Islam bukan agama kekerasan, yang menghalalkan darah dan nyawa manusia tanpa alasan syar’i. Islam adalah agama kasih sayang, agama rahmatan lil ‘alamin bagi sekalian makhluk hidup.

Meskipun, sebagian pelaku terorisme mengklaim dan diklaim sebagai aktivis Islam. Bahkan, tindakan mereka didasari keyakinan akan kemuliaan jihad, yang salah dipahami dari Alqur’an dan Alhadits. Namun, tindakan tersebut dilarang dan bertolak belakang dengan ajaran Islam. Di dalam Islam, nyawa dan darah seorang dilarang dihilangkan tanpa alasan syar’i, baik muslim maupun non muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskannya pada saat haji Wada’ dengan sejelas-jelasnya ketika bersabda, “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kamu adalah haram atas kamu seperti haramnya hari kamu ini, dalam bulan kamu ini, di negeri kamu ini.”( HR. al-Bukhari: 67 dan Muslim: 1679).

Nyawa seseorang dapat dihilangkan, jika pelaku zina yang sudah beristeri (muhshan) dan pembunuh bila belum dimaafkan para wali korbannya serta orang yang murtad dari agamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, ” “Tidak halal darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan –yang berhak disembah– selain Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah kecuali karena salah satu dari tiga hal: pelaku zina yang sudah beristeri, melayangkan nyawa (membunuh) dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah.”( HR. al-Bukhari: 6878 dan Muslim: 1676)

Kedua hadits di atas sangat gamblang menjelaskan, bahwa membunuh manusia, atau menghilangkan nyawa seseorang, tanpa ketiga alasan di atas adalah haram. Jika haram, maka pelakunya akan berdosa. Ini berbanding terbalik, atas klaim pelaku terorisme, bahwa tindakan mereka adalah jihad. Jika, mati dirinya syuhada, dan masuk surga.

Anggapan atau klaim tersebut, sangat bertolak belakang dengan nash-nash syar’i, baik dalam Al Qur’an dan Hadits. Klaim mereka, hanyalah sebuah legitimasi semu, demi membenarkan tindakan, ataupun pemahaman mereka, yang justru menyimpang dari ajaran Islam. Akhirnya, pemahaman yang salah , menimbulkan mudharat, baik bagi pelakunya, serta umat dan ajaran Islam.

Islam Jadi Sasaran
Menurut pakar terorisme, Dr. Anies Baswedan, bahwa dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Chicago Project for Suicide Terrorisme yang mengkaji titik-titik kejadian teror di seluruh dunia mulai tahun 1980 hingga 2004, jumlahnya cukup banyak. Lebih mengherankan lagi, papar Rektor Universitas Paramadina ini, ternyata pelaku terorisme lebih banyak dari orang non Islam, dibanding orang Islam. Apabila, bila dirunut sejarah kebelakang, dari 1947 kebelakang, pelaku terorisme
dari umat Islam sangat minim. Bahkan, nyaris tidak ada.

Namun, Islam terlanjur dituduh sebagai ajaran yang mengajarkan kekerasan, radikalisme, yang berujung dengan aksi terorisme. Tuduhan tersebut bermula pada peledakan Gedung WTC 11 September 2001. Saat itu, entah bisikan darimana, serta skenario siapa, sang Presiden AS kala itu, George W. Bush, langsung penuduh Osama bin Laden (pejuang Afganistan) sebagai pelakunya.
Sejak itu, George W. Bush menyatakan perang melawan terorisme, tapi sayang seribu sayang, terorisme yang ada dalam otak Bush adalah para pejuang Islam. Akhirnya, Bush dibantu para sekutunya, menyerang Afganistan yang diyakini sebagai tempat persembunyian Osama secara membabi buta.

Penyerangan AS beserta sekutunya, secara membabi buta, dengan melanggar etika peperangan, serta HAM justru memunculkan ghirah semangat perlawanan dan balas dendam dari para pejuang Islam, yang salah memahami konsep jihad dalam ajaran Islam, di beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia.

Perlawanan mereka juga, sama membabi butanya dengan AS. Mereka melakukan teror, dengan melakukan pengeboman di daerah bukan perang, sebutlah Bom Kuningan sebagai contoh. Sejak itu, khusus di Indonesia, stigmatisasi mulai dibangun, Islam diidentikkan dengan terorisme.

Alasannya sangat sederhana, para pelaku terorisme identik dengan simbol-simbol keIslaman.
Islampun sebagai sebuah agama, menjadi tersangka, menjadi sasaran empuk atas berbagai pihak, yang memang tidak suka dengan kebangkitan Islam. Apalagi, sejak reformasi di Indonesia, euforia kebangkitan Islam mulai terasa setelah sekian lama terkungkung di era orde baru.

Islam sebagai sebuah ajaran dengan konsep Rahmatan Lil Alaminnya, yang menyelamatkan, mengasihi, tidak hanya manusia sebagai makhluk mulia. Tapi juga semua, makhluk yang ada di dunia ini. Islam dituduh sebagai agama kekerasan, dengan sebuah konsep jihad dalam ajarannya. Aktivitas keIslaman dicurigai, dakwah Islam di matai-matai.

Puncaknya, ketika pemerintah mencoba mengawasi kurikulum pesantren Islam. Tidak sampai di situ, ada sebuah upaya mengubah kurikulum, terutama mereduksi makna Jihad dalam kurikulum sekolah. Bagi pemerintah, pengajaran konsep Jihad menjadi biang kerok terhadap munculnya radikalisme dalam memahami agama, sebagai cikal bakal dari tindakan terorisme.

Upaya ini terus menuai kecaman dan perlawanan, baik dari para pengelola pesantren, maupun ulama yang konsisten dengan ajaran Islam. Pasalnya, menghilangkan atau mereduksi konsep jihad dalam Islam, berarti meragukan kebenaran ajaran Islam, serta menuduh sang manusia mulia yang diciptakan oleh Allah, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam sebagai manusia yang mengajarkan kekerasan, dan pembunuhan. Tuduhan tersebut sangat kejam, serta tidak mendasar. Justru sebaliknya, Rasulullah adalah manusia penyelamat, penunjuk sebuah jalan keselamatan, baik di dunia hingga hari kiamat sebagai tujuan akhir dan kekal nan abadi bagi umat manusia.

Jadi, menghilangkan konsep jihad dari ajaran Islam, adalah tindakan yang tidak bisa ditolerir oleh siapapun. Sebaliknya, konsep jihad yang sebenarnya, berdasarkan Al Qur’an dan Assunnah, harus diajarkan sejak dini di sekolah. Tujuannya, agar konsep yang mulia dari ajaran Islam ini, tidak disalah artikan, dalam sebuah perbuatan yang melanggar ajaran Islam, seperti perbuatan terorisme.

Jihad dalam Islam
Dalam Islam perbuatan terorisme, tidak pernah ditolerir, siapapun pelakunya, serta apapun motifnya. Berbeda dengan Jihad yang sangat diagungkan dalam Islam. Jihad menurut Islam memiliki beberapa bentuk. Ada Jihadun Nafs (jihad melawan hawa nafsu), seperti; Berjihad untuk mempelajari ilmu dan mengamalkannya, serta bersabar dalam menghadapi berbagai macam ujian hidup. Ada juga Jihaadus Syaithaan (Jihad melawan Syaithan), yang terdiri dari: berjihad membentengi diri dari syubhat, dan keraguan, yang dapat merusak iman. Dan ada juga Jihaadul Kuffaar wal Munaafiqiin (Jihad melawan kaum kuffar dan munafiq). Jihad jenis ini memiliki beberapa tingkatan, yaitu: Jihad dengan hati, lisan, harta, dan jiwa.

Khusus Jihad dengan perang melawan orang-orang kafir, dalam Al Qur’an Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. At-Taubah: 73].

Yang patut dipahami dari perintah ini adalah bahwa berperang dengan senjata melawan kaum kuffar dan munafiq tidaklah dilakukan secara serampangan, namun memiliki syarat yang telah diatur oleh Islam, yakni; adanya seorang imam (pemimpin), ada daulah (negara), dan adanya bendera Jihad. Kecuali kalau umat Islam diserang terlebih dahulu, maka wajib atas mereka membela diri. Bahkan, kaum muslimin yang lain pun wajib membantu perjuangan saudaranya di tempat terjadinya serangan.

Begitulah, Islam sebagai ajaran sempurna sangat jelas menguraikan tentang Jihad. Terutama, jihad yang berarti peperangan. Hal ini, telah dipraktekkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam. Dalam Jihad, Rasulullah telah memberikan contoh, dengan berperang yang tetap mengedepankan etika, misalnya; dalam perang dilarang membunuh wanita dan anak, serta binatang dan tumbuhan, dilarang membunuh orang kafir yang berada dalam lindungan kaum muslimin. Sehingga tujuannya semata-mata hanya terhadap kaum kuffar yang memiliki andil di dalam menghalangi agama Allah untuk sampai kepada umat manusia atau mengumumkan peperangan terhadap kaum muslimin.

Berperang di jalan Allah tetap mengedepankan etika, sebab tujuannya sangat mulia. Tujuan utama dari jihad, tidak lain demi tegaknya agama Allah di muka bumi ini. Jihad bukan sekadar membunuh dan dibunuh, sebagaimana yang diperlihatkan oleh para pelaku terorisme, yang membunuh siapa saja, baik muslim ataupun non muslim.

Allah Azza wajalla berfirman: “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah saja. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim”. [QS. Al-Baqarah:193]

Olehnya itu, orang yang berjihad memiliki banyak kemuliaan yang didapatkan sebagai balasan atas amalannya. Balasan tertingginya, masuk surga yang paling tinggi tingkatannya. Orang yang mati syahid juga mendapat beberapa mempunyai 6 keutamaan: diampunkan dosanya sejak tetesan darah yang pertama, dapat melihat tempatnya di Surga, akan dilindungi dari adzab kubur, diberikan rasa aman dari ketakutan yang dahsyat pada hari Kiamat, diberikan pakaian iman, dinikahkan dengan bidadari, dapat memberikan syafa’at kepada 70 orang keluarganya.

Demikianlah keutamaan dan keistimewan jihad dan orang berjihad di jalan Allah. Tentu saja, jihad yang sesuai dengan petunjuk Al Qur’an dan yang dicontohkan Rasulullah. Bukan aksi terorisme, yang pelakunya diklaim sebagai jihad. Hakekat tentang jihad inilah yang perlu didakwahkan, agar umat tidak salah memaknai jihad, yang akhirnya melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan hakekat dan tujuan jihad.

Jadi, berbagai upaya yang ingin mereduksi, hingga menghilangkan makna jihad dari ajaran Islam, tidak benar, dan tidak bijak. Justru, pemahaman yang salah memaknai jihad perlu diluruskan dan diarahkan. Agar umat, terutama generasi muda, tidak salah memaknai jihad. Sehingga, melakukan upaya yang dipahami sebagai jihad, malah melenceng dari hakekat jihad. Akhirnya, mereka melakukan berbagai kerusakan, yang tidak hanya merugikan dirinya sendiri, keluarganya, umat. Namun, juga menodai ajaran yang suci ini. Wallahu a’lam. (Burhanuddin).
(Buletin Nasional Al Balagh Edisi 08/Th.I Rabiul Tsani/26 Maret 2011)

Global Warming

Apakah yang dimaksud dengan Efek Rumah Kaca (ERK) dan penyebabnya?
Efek Rumah Kaca dapat divisualisasikan sebagai sebuah proses.
Pada kenyataannya, di lapisan atmosfer terdapat selimut gas. Rumah kaca adalah
analogi atas bumi yang dikelilingi gelas kaca. Nah, panas matahari masuk ke bumi
dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian
diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi
gelombang panjang.
Namun, panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh
permukaan gelas kaca dan terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam rumah
kaca di pertanian dan perkebunan, gelas kaca memang berfungsi menahan panas untuk
menghangatkan rumah kaca.
Masalah timbul ketika aktivitas manusia menyebabkan peningkatan konsentrasi selimut
gas di atmosfer (Gas Rumah Kaca) sehingga melebihi konsentrasi yang seharusnya.
Maka, panas matahari yang tidak dapat dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula.
Semua proses itu lah yang disebut Efek Rumah Kaca. Pemanasan global dan perubahan
iklim merupakan dampak dari Efek Rumah Kaca.
§ Apakah Efek Rumah Kaca merupakan proses alami?
Ya! Efek Rumah Kaca terjadi alami karena memungkinkan kelangsungan hidup semua
makhluk di bumi. Tanpa adanya Gas Rumah Kaca, seperti karbondioksida (CO2), metana
(CH4), atau dinitro oksida (N2O), suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius lebih
dingin. Sejak awal jaman industrialisasi, awal akhir abad ke-17, konsentrasi Gas Rumah
Kaca meningkat drastis. Diperkirakan tahun 1880 temperatur rata-rata bumi meningkat
0.5 – 0.6 derajat Celcius akibat emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan dari aktivitas
manusia.
· Apa buktinya bahwa Efek Rumah Kaca itu benar-benar terjadi ?
Melalui beberapa bukti berikut:
– Pertama, berdasarkan ilmu fisika, beberapa gas mempunyai kemampuan untuk
menahan panas. Tak ada yang patut diragukan dari pernyataan ini.
– Kedua, pengukuran yang dilakukan sejak tahun 1950-an menunjukkan tingkat
konsentrasi Gas Rumah Kaca meningkat secara tetap, dan peningkatan ini
berhubungan dengan emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan industri dan
berbagai aktivitas manusia lainnya.
– Ketiga, penelitian menunjukkan udara yang terperangkap di dalam gunung es
telah berusia 250 ribu tahun . Artinya:
· Konsentrasi Gas Rumah Kaca di udara berbeda-beda di
masa lalu dan masa kini. Perbedaan ini menunjukkan
adanya perubahan temperatur
· Konsentrasi Gas Rumah Kaca terbukti meningkat sejak
masa praindustri.
§ Apa sajakah yang termasuk dalam kelompok Gas Rumah Kaca?
Yang termasuk dalam kelompok Gas Rumah Kaca adalah karbondioksida (CO2), metana
(CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), sampai sulfur
heksafluorida (SF6). Jenis GRK yang memberikan sumbangan paling besar bagi emisi gas
rumah kaca adalah karbondioksida, metana, dan dinitro oksida. Sebagian besar
dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) di sektor
energi dan transport, penggundulan hutan , dan pertanian . Sementara, untuk gas rumah
kac a lainnya (HFC, PFC, SF6 ) hanya menyumbang kurang dari 1% .
2
· Darimanakah emisi karbondioksidadihasilkan ?
Sumber-sumber emisi karbondioksida secara global dihasilkan dari pembakaran bahan
bakar fosil (minyak bumi dan batu bara):
– 36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak, dll)
– 27% dari sektor transportasi
– 21% dari sektor industri
– 15% dari sektor rumah tangga & jasa
– 1% dari sektor lain -lain.
· Apakah penghasil utama emisi karbondioksida?
Sumber utama penghasil emisi karbondioksida secara global ada 2 macam. Pertama,
pembangkit listrik bertenaga batubara.
Pembangkit listrik ini membuang energi 2 kali lipat dari energi yang dihasilkan. Semisal,
energi yang digunakan 100 unit, sementara energi yang dihasilkan 35 unit. Maka, energi
yang terbuang adalah 65 unit! Setiap 1000 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit
listrik bertenaga batubara akan mengemisikan 5,6 juta ton karbondioksida per tahun!
Kedua, pembakaran kendaraan bermotor.
Kendaraan yang mengonsumsi bahan bakar sebanyak 7,8 liter per 100 km dan
menempuh jarak 16 ribu km, maka setiap tahunnya akan mengemisikan 3 ton
karbondioksida ke udara! Bayangkan jika jumlah kendaraan bermotor di Jakarta lebih
dari 4 juta kendaraan! Berapa ton karbondioksida yang masuk ke atmosfer per tahun?
· Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi kontribusi Gas Rumah Kaca?
Penting diingat, emisi Gas Rumah Kaca harus dikurangi! Jadi harus dibangun sistem
industri dan transportasi yang TIDAK bergantung pada bahan bakar fosil (minyak bumi
dan batu bara). Kalau perlu, TIDAK menggunakannya SAMA SEKALI!
Karena Perubahan Iklim adalah masalah global, penyelesaiannya pun mesti secara
internasional. Langkah pertama yang dilakukan adalah pembuatan Kerangka Konvensi
untuk Perubahan Iklim (Framework Convention on Climate Change) tahun 1992 di Rio de
Janeiro, Brazil, yang ditandatangani oleh 167 negara. Kerangka konvensi ini mengikat
secara moral semua negara-negara industri untuk menstabilkan emisi karbondioksida
mereka. Sayangnya, hanya sedikit negara industri yang memenuhi target. Langkah
selanjutnya berarti membuat komitmen yang mengikat secara hukum dan
memperkuatnya dalam sebuah protokol. Dibuat lah Kyoto Protocol atau Protokol Kyoto.
Tujuannya: mengharuskan negara-negara industri menurunkan emisinya secara kolektif
sebesar 5,2 persen dari tingkat emisi tahun 1990.
· Siapakah penghasil emisi karbondioksida paling besar?
Setiap kepala penduduk di negara barat mengeluarkan emisi karbondioksida 25 kali
lebih banyak daripada penduduk di negara-negara berkembang! Lima pengemisi
karbondioksida terbesar di dunia adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, dan
Jepang. Ini yang menyebabkan PHal ini yang menyebabkan Protokol Kyoto HANYA
mengharuskan negara-negara maju, yang juga kaya, untuk menurunkan emisinya lebih
dahulu. Ironisnya, Cina sebagai negara berkembang menunjukkan sikap kepemimpinan
dalam menanggapi isu Perubahan Iklim , berkebalikan dengan negara-negara industri
yang kian terpuruk. Emisi karbondioksida Cina pada tahun 1998 turun hingga 4%
dengan tingkat ekonomi naik hingga lebih dari 7%.
· Negara manakah yang menyumbang Gas Rumah Kaca terbesar?
Data terakhir menunjuk pada Amerika Serikat sebagai penyumbang 720 juta ton Gas
Rumah Kaca setara karbondioksida—setara dengan 25% emisi total dunia atau 20,5 ton
per kapita. Emisi Gas Rumah Kaca pembangkit listrik di Amerika Serikat saja masih jauh
lebih besar bila dibandingkan dengan total jumlah emisi 146 negara (tigaperempat
negara di dunia)! Sektor energi menyumbang sepertiga total emisi Gas Rumah Kaca
3
Amerika Serikat. Emisi Gas Rumah Kaca sektor energi Amerika Serikat lebih besar dua
kali lipat dari emisi Gas Rumah Kaca India. Dan , total emisi Gas Rumah Kaca Amerika
Serikat lebih besar dua kali lipat emisi Gas Rumah Kaca Cina. Emisi total dari negaranegara
berkembang besar , seperti Korea, Meksiko, Afrika Selatan, Brazil, Indonesia, dan
Argentina, tidak melebihi emisi Amerika Serikat.
§ Apakah yang dimaksud dengan Pemanasan Global (Global Warming) dan Perubahan
Iklim (Climate Change)?
Pemanasan Global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat
peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer. Pemanasan Global akan diikuti
dengan Perubahan Iklim, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia
sehingga menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan , di belahan bumi lain akan
mengalami musim kering yang berkepanjangan disebabkan kenaikan suhu.
· Mengapa terjadi Pemanasan Global (Global Warming) dan Perubahan Iklim (Climate
Change)?
Pemanasan Global dan Perubahan Iklim terjadi akibat aktivitas manusia, terutama yang
berhubungan dengan penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta
kegiatan lain yang berhubungan dengan hutan, pertanian , dan peternakan. Aktivitas
manusia di kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung
menyebabkan perubahan komposisi alami atmosfer, yaitu peningkatan jumlah Gas
Rumah Kaca secara global.
· Apakah perbedaan antara Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global, dan Perubahan
Iklim?
Istilah -istilah di atas seringkali digunakan untuk menggambarkan hubungan sebabakibat.
Efek Rumah Kaca adalah penyebab, sementara Pemanasan Global dan
Perubahan Iklim adalah akibat.
Efek Rumah Kaca menyebabkan terjadinya akumulasi panas (atau energi) di atmosfer
bumi. Dengan adanya akumulasi yang berlebihan tersebut, iklim global melakukan
penyesuaian. Penyesuaian yang dimaksud salah satunya peningkatan temperatur bumi,
kemudian disebut Pemanasan Global dan berubahnya iklim regional—pola curah hujan,
penguapan, pembentukan awam—atau Perubahan Iklim.
· Apa sajakah dampak-dampak Perubahan Iklim?
Pada tahun 2100, temperatur atmosfer akan meningkat 1.5 – 4.5 derajat Celcius, jika
pendekatan yang digunakan “melihat dan menunggu, tanpa melakukan apa-apa” (wait
and see, and do nothing)!
Dampak-dampak lainnya:
– Musnahnya berbagai jenis keanekrag aman hayati
– Meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan badai, angin topan, dan banjir
– Mencairnya es dan glasier di kutub
– Meningkatnya jumlah tanah kering yang potensial menjadi gurun karena
kekeringan yang berkepanjangan
– Kenaikan permukaan laut hingga menyebabkan banjir yang luas. Pada tahun
2100 diperkirakan permukaan air laut naik hingga 15 – 95 cm.
– Kenaikan suhu air laut menyebabkan terjadinya pemutihan karang (coral
bleaching) dan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia
– Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan
– Menyebarnya penyakit-penyakit tropis, seperti malaria, ke daerah -daerah baru
karena bertambahnya populasi serangga (nyamuk)
– Daerah-daerah tertentu menjadi padat dan sesak karena terjadi arus
pengungsian.
4
· Apakah yang diprediksikan para ahli mengenai Perubahan Iklim?
Pada tahun 1988, Badan PBB untuk lingkungan (United Nations Enviroment Programme)
dan organisasi meteorologi dunia (World Meteorology Organization) mendirikan sebuah
panel antar pemerintah untuk perubahan iklim (Intergovernmental Pan el on Climate
Change/IPCC) yang terdiri atas 300 lebih pakar Perubahan Iklim dari seluruh dunia.
Pada tahun 1990 dan 1992, IPCC menyimpulkan bahwa penggandaan jumlah Gas
Rumah Kaca di atmosfer mengarah pada konsekuensi serius bagi masalah sosial,
ekonomi, dan sistem alam di dunia.
Selain itu, IPCC menyimpulkan bahwa emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan dari
aktivitas manusia juga memberikan kontribusi pada Gas Rumah Kaca alami dan akan
menyebabkan atmosfer bertambah panas. IPCC memperkirakan penggandaan emisi Gas
Rumah Kaca akan menyebabkan Pemanasan Global sebesar 1,5 –4,5 derajat Celcius.
· Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, apakah masih diperdebatkan?
Di dunia ilmu pengetahuan sudah tidak mempertentangkan lagi apakah Perubahan Iklim
adalah masalah serius atau tidak. Kaum ilmuwan lebih menyibukkan diri pada
bagaimana Perubahan Iklim itu terjadi, apa efek yang ditimbulkan, bagaimana
mendeteksikannya, dan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk mengurangi
dampaknya.
· Bagaimana kita dapat meramalkan Perubahan Iklim sementara kita tidak dapat
meramalkan cuaca ?
Penting untuk dimengerti perbedaan antara iklim dan cuaca.
Iklim
à pola cuaca umum yang terjadi selama bertahun-tahun dalam jangka waktu panjang ,
antara 30-100 tahun. Contoh: iklim tropis, sub-tropis, iklim panas, iklim dingin.
Cuaca
àkondisi harian gejala alam, seperti suhu, curah hujan, tekanan udara dan angin , yang
terjadi dan berubah dalam waktu singkat. Contoh: cerah berawan, hujan badai, dll.
· Apakah El Nino ada hubungannya dengan Pemanasan Global dan Perubahan Iklim?
El Nino adalah fenomena alami yang telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu,
walaupun tidak selalu dengan pola yang sama. Ia merupakan gelombang panas di garis
ekuator Samudera Pasifik. Kini, El Nino muncul setiap 2 – 7 tahun, lebih kuat dan
berkontribusi pada peningkatan temperatur bumi. Dampaknya dapat dirasakan di
seluruh dunia dan menunjukkan bahwa iklim di bumi benar -benar berhubungan. Para
ilmuwan menguji bagaimana Pemanasan Global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia
dapat mempengaruhi El Nino: akumulasi Gas Rumah Kaca di atmosfer “membantu”
menyuntikkan panas ke Samudera Pasifik. Oleh karena itu, El Nino muncul lebih sering
dan lebih ganas dari sebelumnya.
· Apakah penipisan lapizan ozon ada hubungan nya dengan Pemanasan Global dan
Perubahan Iklim?
Masalah lingkungan dan kesehatan manusia yang terkait dengan penipisan lapisan ozon
sesungguhnya berbeda dengan resiko yang dihadapi manusia dari akibat Pemansan
Global. Walaupun begitu, kedua fenomena tersebut saling berhubungan. Beberapa
polutan (zat pencemar) memberikan kontribusi yang sama terhadap penipisan lapisan
ozon dan Pemanasan Global.
Penipisan lapisan ozon mengakibatkan masuknya lebih banyak radiasi sinar ultraviolet
(UV) yang berbahaya masuk ke permukaan bumi. Namun, meningkatnya radiasi sinar UV
bukanlah penyebab terjadinya Pemanasan Global, melainkan kanker kulit, penyakit
katarak, menurunnya kekebalan tubuh manusia, dan menurunnya hasil panen.
5
Penipisan lapisan ozon terutama disebabkan oleh chlorofluorcarbon (CFC). Saat ini
negara-negara industri sudah tidak memproduksi dan menggunakan CFC lagi. Dan,
dalam waktu dekat, CFC akan benar -benar dihapus di seluruh dunia. Seperti halnya
karbondioksida, CFC juga merupakan Gas Rumah Kaca dan berpotensi terhadap
Pemanasan Global jauh lebih tinggi dibanding karbondioksida sehingga dampak
akumulasi CFC di atmosfer mempercepat laju Pemanasan Global. CFC akan tetap berada
di atmosfer dalam waktu sangat lama, berabad -abad. Artinya, kontribusi CFC terhadap
penipisan lapisan ozon dan Perubahan Iklim akan berlangsung dalam waktu sangat
lama.
· Apa yang bisa dilakukan oleh negara-negara di dunia untuk menghentikan
Pemanasan Global?
Working GroupIII—IPCC membuat studi teknologi dan ekonomi secara literatur untuk
menunjukkan kebijakan berorientasi pasar yang dirancang sungguh -sungguh agar dapat
mengurangi emisi Gas Rumah Kaca sekaligus kebijakan pembiayaan untuk menghadapi
dampak Perubahan Iklim. Studi ini dibuat agar akibat dari Pemanasan Global dan
Perubahan Iklim tetap dapat memberikan manfaat ekonomi, termasuk lebih banyak
sistem energi yang cost-effective, terjadinya inovasi teknologi yang lebih cepat,
mengurangi pengeluaran untuk subsidi yang tidak tepat, dan pasar yang lebih efisien.
Pada intinya negara-negara di dunia berusaha melakukan efisiensi energi dan
memasyarakatkan penggunaan energi yang dapat diperbarui (renewable energy) untuk
mengurangi atau bahkan menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Denmark adalah salah satu negara yang tetap menikmati pertumbuhan ekonomi yang
kuat meskipun harus mengurangi emisi Gas Rumah Kaca.
Di bawah ini adalah situs-situs web yang dapat dipergunakan sehubungan dengan
masalah pemanasan global dan perubahan iklim:
· http://www.ipcc.ch
· http://www.unfccc.int
· http://www.climateark.org
· http://www.greenpeaceusa.org/climate
· http://www.epa.gov/globalwarming
· http://www.ncdc.noaa.gov/ol/climate/globalwarming.html
· http://www.climatehotmap.org/
· globalwarming.enviroweb.org/
· http://www.worldwildlife.org/climate/climate.cfm
· http://www.panda.org/climate/

keteknikan Hasil Hutan

BAB I. MATRIKS BENTUK-BENTUK PENGUSAHAAN HUTAN
1. HUTAN TANAMAN RAKYAT
Hutan Tanaman Rakyat adalah hutan tanaman yang dibangun oleh kelompok masyarakat di kawasan hutan produksi dengan pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan-Hutan Tanaman Rakyat (IUPHHKHTR) dengan jangka waktu paling lama 100 tahun. Pengertian Hutan Tanaman Rakyat (HTR) secara historis adalah merupakan penyempurnaan dari pola dan kelembagaan hutan tanaman yang telah ada seperti Hutan Tanaman Industri (HTI), Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan Hutan Rakyat (HR) melalui KUHR, proyek dan swadaya masyarakat (dan sistem penanaman melalui GERHAN).
Hutan Tanaman Rakyat (HTR) merupakan program penanaman jenis tanaman kehutanan dengan memperhatikan potensi sosial budaya menanam yang tumbuh di masyarakat. Hutan tanaman rakyat yang selanjutnya disingkat HTR adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian sumber daya hutan (PP 6/2007 bab 1 pasal 1:19).
Hutan Tanaman Rakyat hanya akan dikembangkan pada areal kawasan hutan produksi yang tidak dibebani hak. Jadi dapat dikatakan bahwa untuk fungsi Hutan Tanaman Rakyat itu sendiri dapat digolongkan sebagai kawasan hutan yang memiliki fungsi produksi.

2. HUTAN TANAMAN INDUSTRI
Hutan tanaman industri yang selanjutnya disingkat HTI adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok industri kehutanan untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan baku industri hasil hutan (PP 6/2007 bab 1 pasal 1:18).
Hutan tanaman industri (juga umum disingkat HTI) adalah sebidang luas daerah yang sengaja ditanami dengan tanaman industri (terutama kayu) dengan tipe sejenis dengan tujuan menjadi sebuah hutan yang secara khusus dapat dieksploitasi tanpa membebani hutan alami. Hasil hutan tanaman industri berupa kayu bahan baku pulp dan kertas (jenis tanaman akasia) serta kayu pertukangan (meranti). Di Indonesia mulai dikembangkan sejak tahun 1990-an di Sumatera Selatan dan Riau.
Hutan Tanaman Industri hanya akan dikembangkan pada areal kawasan hutan produksi yang tidak dibebani hak. Jadi dapat dikatakan bahwa untuk fungsi Hutan Tanaman Industri itu sendiri dapat digolongkan sebagai kawasan hutan yang memiliki fungsi produksi.

3. HUTAN KEMASYARAKATAN
Hutan kemasyarakatan adalah hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat (PP 6/2007 bab 1 pasal 1: 23). Hutan kemasyarakatan (HKm), adalah hutan rakyat yang dibangun di atas lahan-lahan milik negara, khususnya di atas kawasan hutan negara. Dalam hal ini, hak pengelolaan atas bidang kawasan hutan itu diberikan kepada sekelompok warga masyarakat, biasanya berbentuk kelompok tani hutan atau koperasi yang tidak dibebani hak.
Hutan Kemasyarakatan (HKM) merupakan sebuah proses perubahan yang mengarah kepada keterlibatan masyarakat yang lebih luas dalam pengelolaan hutan. Sebagai sebuah proses, maka konsep HKM ini juga tidak memiliki sebuah sistem atau definisi yang baku, tetapi berkembang sesuai dengan kebutuhan, kondisi masyarakat dan sistem sosial ekonomi, serta kesepakatan-kesepakatan diantara pihak-pihak yang terlibat. Oleh sebab itu, adalah sah-sah saja terjadi perbedaan dalam pola pelaksanaannya di berbagai daerah sesuai dengan evolusi sistem sosial, ekonomi dan politik setempat. Sebagai contoh, Nepal harus melalui berbagi proses dan tahapan HKM sebelum sampai pada sistem yang ada sekarang. Sistem sekarangpun sedang dalam proses perubahan untuk mengakomodasi berbagai perubahan sistem sosial ekonomi masyarakat.
Keuntungan yang diperoleh masyarakat dengan mengikuti program HKM adalah mereka mendapat akses secara legal kedalam lahan hutan negara selain tentu saja mendapat bantuan teknis dan sedikit subsidi dalam hal penyiapan bibit tanaman. Selain itu semua keuntungan ekonomi dan ekologi di masa yang akan datang akan manjadi milik peserta HKM.
Hutan kemasyarakatan (HKm) (dalam PP 6/2007) memungkinkan dikembangkan di hutan konservasi (kecuali Cagar Alam dan zona inti Taman Nasional), kawasan hutan produksi dan hutan lindung.

4. HUTAN RAKYAT
Hutan rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik maupun hak lainnya dengan ketentuan luas minimum 0,25 Ha, penutupan tajuk tanaman kayu-kayuan dan tanaman lainnya lebih dari 50 %. Hutan rakyat merupakan hutan-hutan yang dibangun dan dikelola oleh rakyat, kebanyakan berada di atas tanah milik atau tanah adat, meskipun ada pula yang berada di atas tanah negara atau kawasan hutan negara.
Pola pengembangan hutan rakyat merupakan suatu cara pengembangan kegiatan hutan rakyat yang dianggap sesuai dengan kondisi dan situasi sosial budaya daerah setempat. Secara teknik, hutan-hutan rakyat ini pada umumnya berbentuk wanatani, yaitu campuran antara pohon-pohonan dengan jenis-jenis tanaman bukan pohon. Baik berupa wanatani sederhana, ataupun wanatani kompleks (agroforest) yang sangat mirip strukturnya dengan hutan alam.
Salah satu karakteristik dari hutan rakyat adalah memiliki jangka waktu pertumbuhan relatif lama. Sifat pertumbuhan hutan rakyat yang relatif lama tersebut menyebabkan masyarakat yang berpenghasilan rendah kurang responsif untuk mengembangkan hutan rakyat secara murni swadaya. Masalah yang mungkin dihadapi dalam membangun hutan rakyat adalah resiko dalam pertumbuhan dan resiko dalam pemasaran hasil. Rotasi pertumbuhan yang panjang menimbulkan ketidakpastian dalam melakukan investasi karena adanya resiko pasar dan resiko fisiologi tegakan hutan yang mempengaruhi pengembalian dana investasi tersebut. Hal ini memperkaya karakteristik dalam usaha pembangunan hutan, yaitu putaran dana yang lambat.
Ketidakpastian dalam pertumbuhan sering menimbulkan masalah dalam mendapatkan kredit perbankan serta persyaratannya. Campur tangan pemerintah dalam pengusahaan hutan rakyat dapat memberikan dampak positif terhadap produktivitas hutan serta kualitas lingkungan. Campur tangan tersebut dapat pula menimbulkan dampak negatif apabila kebijakan pemerintah akan membebani pemilik hutan yang menyebabkan berkurangnya keuntungan bagi pemilik hutan serta mengurangi minat pemilik untuk mengelola hutan dan pada akhirnya mereka megalihkan penggunaan hutan untuk tujuan lain. Oleh karena itu, pengaturan pengusahaan hutan rakyat beserta program pembangunannya harus dapat menyediakan insentif untuk memperkaya pengusahaan hutan rakyat serta memberikan keuntungan bagi pemilik hutan.
Kegiatan pengusahaan hutan rakyat melibatkan banyak aktor yang berperan, baik birokrat, LSM, ilmuwan maupun masyarakat sebagai ujung tombak. Keberhasilan kegiatan ini akan ditentukan oleh peran masing-masing aktor tersebut dan guna memberikan dorongan serta rangsangan kepada semua aktor maka diperlukan insentif dalam pengusahaan hutan rakyat ini. Penyelenggaraan pembangunan, termasuk pengusahaan hutan rakyat, diharapkan dapat mewujudkan efisiensi alokasi pemanfaatan sumberdaya hutan dan lahan. Namun demikian, tidaklah mustahil bahwa pilihan-pilihan masyarakat hanya akan mendorong pemanfaatan sumberdaya hutan dan lahan tanpa memperhatikan aspek-aspek pelestariannya.
Hal ini dapat terjadi apabila masyarakat tidak memperoleh insentif yang memadai dalam upaya pelestarian sumberdaya tersebut. Oleh karena itu, pelaksanaan pengusahaan hutan rakyat perlu menyertakan pendekatan sistem insentif atau disinsentif, khususnya guna menjamin tercapainya tujuan pengusahaan hutan rakyat, baik ditingkat masyarakat yang terlibat langsung dalam aktivitas tersebut, maupun ditingkat kebijakan yang melibatkan berbagai instansi pemerintah. Untuk fungsi Hutan Rakyat itu sendiri dapat digolongkan sebagai kawasan hutan yang memiliki fungsi produksi baik untuk memenuhi kebutuhan pasar maupun untuk memenuhi kebutuhan ruamah tangga petani itu sendiri.

5. HUTAN DESA
Masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan mendapat akses legal untuk mengelola hutan negara dimana mereka hidup dan bersosialisasi. Hutan negara yang dapat dikelola oleh masyarakat pedesaan disebut Hutan Desa. Pemberian akses ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.49/Menhut-II/2008, tentang Hutan Desa, yang ditetapkan pada tanggal 28 Agustus 2008. Adapun kawasan hutan yang dapat ditetapkan sebagai areal kerja hutan desa adalah hutan lindung dan hutan produksi yang belum dibebani hak pengelolaan atau ijin pemanfaatan serta berada dalam wilayah administrasi desa yang bersangkutan. Penetapan areal kerja hutan desa dilakukan oleh Menteri Kehutnan berdasarkan usulan bupati atau walikota.
Mengacu pada penjelasan UU 41/1999 tentang Kehutanan, khususnya pada penjelasan pasal 5, hutan desa adalah hutan negara yang dimanfaatkan oleh desa untuk kesejahteraan masyarakat desa. Selanjutnya di dalam PP 6/2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, hutan desa didefinisikan sebagai hutan negara yang belum dibebani izin atau hak yang dikelola oleh desa dan untuk kesejahteraan desa.
Untuk dapat mengelola hutan desa, Kepala Desa membentuk Lembaga Desa yang nantinya bertugas mengelola hutan desa yang secara fungsional berada dalam organisasi desa. Yang perlu dipahami adalah hak pengelolaan hutan desa ini bukan merupakan kepemilikan atas kawasan hutan, karena itu dilarang memindahtangankan atau mengagunkan, serta mengubah status dan fungsi kawasan hutan. Intinya Hak pengelolaan hutan desa dilarang digunakan untuk kepentingan di luar rencana pengelolaan hutan, dan harus dikelola berdasarkan kaidah-kaidah pengelolaan hutan lestari. Dari hal diatas maka fungsi dari pada hutan desa adalah dapat menjadi fungsi produksi, fungsi lindung maupun fungsi konservasi tergantung pada rencana pengelolaan hutan tersebut.

6. HUTAN ADAT
Undang-Undang Kehutanan menyatakan bahwa hutan merupakan kekayaan alam yang dikuasai negara yang akan digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Pemerintah yang mewakili negara, berwenang menetapkan status hutan termasuk menetapkan satu wilayah sebagai hutan adat. Dalam Undang-undang No. 41 Tahun 1999, Hutan Adat adalah hutan negara yang berada dalam wilayah adat yang pengelolaannya diserahkan pada masyarakat hukum adat. Berarti, masyarakat adat tidak diakui kepemilikannya tetapi dapat memperoleh hak mengelola dan memanfaatkan hutan sebagai hutan adat. Dan pemerintahlah yang berwewenang memberikan hak itu, melalui proses pengakuan Masyarakat Adat yang masih hidup.
Hutan adat adalah kawasan hutan yang berada di dalam wilayah adat yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari siklus kehidupan komunitas adat penghuninya. Pada umumnya komunitas-komunitas masyarakat adat penghuni hutan di Indonesia memandang bahwa manusia adalah bagian dari alam yang harus saling memelihara dan menjaga keseimbangan dan harmoni. Penghancuran pranata-pranata adat dalam pengelolaan hutan adat secara sistematis lewat berbagai kebijakan dan hukum yang dikeluarkan Rejim Pemerintahan Orde Baru selama lebih dari 3 dasawarsa tidak sepenuhnya berhasil. Banyak studi yang telah membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat adat di Indonesia masih memiliki kearifan adat dalam pengelolaan sumberdaya alam. Sistem-sistem lokal ini berbeda satu sama lain yang berkembang dan berubah secara evolusioner sesuai kondisi sosial budaya dan tipe ekosistem setempat.
Pandangan masyarakat adat mengenai hutan adat sangat beragam dan sangat terkait dengan konsep wilayah adat setempat. Ada masyarakat adat yang mendefinisikan hutan adat sebagai daerah keramat dimana kuburan nenek moyang berada. Ada yang mendefinisikan hutan adat sebagai hutan lindung atau hutan cadangan yang dapat dibuka jika anggota masyarakat membutuhkan tanah. Ada pula yang mendefinisikan semua hutan di dalam wilayah adat mereka sebagai hutan adat. Sebaiknya masyarakat adat sendiri mencapai kesepakatan untuk menentukan pengertian hutan adat dan wilayah adat, untuk kemudian diusulkan pada pemerintah untuk disahkan.
Hutan Adat merupakan hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat. Hutan adat dikelola oleh masyarakat hukum adat. Kegiatan pengelolaan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan undang-undang. Selain mengelola, masyarakat hukum adat juga dapat melakukan pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Apabila dalam perkembangannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan tidak ada lagi, maka hak pengelolaan hutan adat kembali kepada pemerintah. Fungsi dari pada hutan adat ini dapat dijadikan sebagai fungsi produksi, fungsi konservasi, maupun fungsi lindung.

7. HAK PENGUSAHAAN HUTAN
Hak Pengusahaan Hutan (HPH) adalah izin yang diberikan untuk melakukan pembalakan mekanis diatas hutan alam yang dikeluarkan berdasarkan Peraturan pemerintah No. 21 Tahun 1970 tentang Hak Pengusahaan Hutan dan Hak Pemungutan Hasil Hutan. Pada waktu yang bersamaan, sistem budaya hutan disempurnakan melalui penerbitan Pedoman Tebang Pilih Indonesia, yang kemudian disempurnakan lagi menjadi Tebang Pilih Tanam Indonesia.
Hak Pengusahaan Hutan adalah hak untuk mengusahakan hutan didalam kawasan hutan produksi, yang kegiatannya terdiri dari penanaman, pemeilharaan, pengamanan, pemanenan hasil, pengolahan dan pemasaran hasil hutan.
Areal kerja Hak Pengusahaan Hutan yang dimaksud adalah kawasan hutan produksi yang dibebani Hak Pengusahaan Hutan. Keputusan pemberian hak pengusahaan hutan adalah ijin yang diberikan oleh Menteri untuk melaksanakan pengusahaan hutan, sedangkan keputusan pemberian hak pemungutan hasil hutan diberikan oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II untuk melaksankan pemungutan hasil hutan.
Pada tahun 1969 sampai 1974, sekitar 11 juta hektar konsesi Hak Pengelolaan Hutan (HPH) diberikan hanya disatu Provinsi, yaitu Kalimantan Timur. Produksi kayu bulat melonjak menjadi 28 juta meter kubik. Sekitar 75 persen diantaranya eksport.
Pada tahun 2004, jumlah pemegang HPH hanya tinggal 279, sekitar 107 diantaranya dinyatakan tidak aktif. Pada tahun 2006, dengan sisa hutan produksi seluas 57.620.301,63 ha, tercatat ada 303 perusahaan yang memliki izin IUPHHK (pengganti HPH) yang mengusai 28 juta ha lebih.
Dari hal diatas maka fungsi dari pada Hak Pengusahaan Hutan adalah dapat menjadi fungsi produksi, fungsi lindung maupun fungsi konservasi tergantung pada rencana pengelolaan hutan tersebut.

BAB II. BENTUK PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN RAKYAT
Hutan Tanaman Rakyat atau HTR merupakan bentuk penguasaan hutan yang di kelola oleh suatu perusahan tertentu dengan tujuan utama untuk memenuhi kebutuhan bahan baku produksi. Dalam pengolahan Hutan Tanaman Rakyat ini tetap memiliki fungsi sebagai fungsi produksi walaupun fungsi utamanya tetap mengutamakan fungsinya sebagai fungsi lindung.
Fungsi produksi pada Hutan Tanaman Rakyat yaitu aktivitas pemanfaatan dan penggunaan Hutan dapat dilakukan pada pemanfaatan kawasan. Komoditas utama yang dihasilkan adalah kayu akan tetapi dalam jumlah yang relatif kurang karena tetap memperhitungkan fungsi hutan sebagai hutan produksi. Selain dari kayu komoditas yang di hasilkan yaitu tanaman hias, lingkungan, Industri, devisa, lapangan kerja, wisata, obat-obatan tradisional, jamur, madu, satwa dan makanan ternak.
Hutan Tanaman Rakyat merupakan hutan yang mempunyai fungsi utama sebagai hutan produksi yang komoditas utama yang diinginkan adalah untuk menghasilkan kayu, untuk kebutuhan industri tetapi tidak menutup kemungkinan dalam pengolahannya tetap menghasilkan komoditas lain yang memiliki nilai ekonomi yang cukup besar seperti pemulihan dan penjagaan ekosistem, jasa, tanaman, maupun flora dan faunanya. Adapun dasar acuan pengolahan dalam hai ini diatur oleh UU 41 tahun 1999 tentang Kehutanan utamanya pada pasal Pasal 34 Ayat (2), Pasal 35 Ayat (1 dan 2), dan Pasal 37.
Pada Hutan Tanaman Rakyat (HTR) baik dalam fungsinya sebagai hutan produksi maupun sebagai hutan lindung prasarana yang di butuhkan yaitu :
1. Tenaga Ahli
Tenaga ahli ini penting dalam pengolahan hutan agar dalam pengolahan hutan tersebut dapat berjalan dengan baik yang efisien dan efektif sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
2. Peralatan teknis
Peralatan teknis ini penting untuk memudahkan dalam pengolahan hutan tersebut.
3. Jalan
Jalan hutan dapat diklasifikasikan menurut fungsinya menjadi 3 jenis jalan hutan yaitu jalan utama, jalan cabang atau ranting dan jalan sarad. Jalan utama adalah jalan yang mengangkut TPn keluar dari wilayah hutan atau masuk ke industri. Operasi dalam bidang kehutanan adalah merupakan kegiatan yang sangat kompleks, hal ini memerlukan perencanaan yang matang. Selain dari jalan utama terdapat pula jalan sarad yang merupakan jalan yang melayani keperluan menyarad kayu dari tempat tinggal di jalan angkutan atau landing. Jalan ini menghubungkan tempat tumbuh pohon individu dengan jalan angkutan atau landing, jalan ini berkualitas rendah karena biasanya hanya di gunakan sekali saja.
4. Keterampilan
5. Bangunan
6. Gasebo
7. TPn.
Dalam pengolahan hutan dikenal beberapa teori yang mendasari segala aktifitas pengolahan hutan. Adapun teori tersebut antara lain yaitu :
a. Teori Von Thunen
Teori von thunen ini merupakan teori yang berdasarkan pada kemampuan suatu wilayah untuk dapat di akses oleh kendaraan yang berpengaruh pada sewa lahan yang bergantung pada faktor jarak, dimana jarak akan mempengaruhi biaya produksi yang mana dikeluarkan untuk transportasi menuju daerah atau wilayah yang akan di akses sehingga menentukan sewa lahan.
b. Teori Ricardian
Teori Ricardian ini dikenal pula dengan teori kesuburan tanah adalah teori yang menjelaskan dimana sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pembukaan wilayah hutan (PWH) berdasarkan pada intensitas pemanfaatan lahan.
c. Teori Managemen Regim
Teori Managemen Regim merupakan teori yang menyatakan tentang konsep dalam pengembangan wilayah pemanenan hutan yang menjadikan kota sebagai sektor basis atau industri pengolahan hutan.

d. Teori IUCN
Dalam pengolahan Hutan Tanaman Rakyat ini teori yang di gunakan adalah teori managemen regim. Dilihat dari dasar teori ini yang menyatakan bahwa konsep dalam pengembangan wilayah pemanenan hutan yang menjadikan kota sebagai sektor basis atau industri pengolahan hutan, maka jelaslah bahwa teori inilah yang paling tepat untuk pengolahan Hutan Tanaman Rakyat ( HTR ).

BAB III. PENENTUAN KARDINAL POSITIF (+) DAN NEGATIF (-)
Titik-titik (zone) kardinal adalah areal atau tempat-tempat yang dianggap harus atau perlu mendapat perhatian dalam perencanaan PWH, yang ditinjau dari segi teknisPWH, teknis, ekonomis dan ekologis merupakan tempat yang penting. Titik kardinal dibedakan atas titik kardinal positif dan titik kardinal negatif.
Titik-titik kardinal positif prioritas pertama yaitu :
1. Tempat-tempat yang mempunyai akses ke jalan umum dan jalan angkutan yang sudah ada
2. Tempat-tempat yang menguntungkan untuk pembuatan jalan angkutan
3. Bagian-bagian yang datar yang cocok untuk pembuatan belokan dan jalan angkutan
4. Tempat-tempat yang strategis untuk base camp, TPK, Log Pond, tempat persemaian, pos-pos pengamanan, dan lain-lain
5. Tempat-tempat yang baik dan strategis untuk pembuatan jembatan
6. Tempat-tempat yang terdapat deposit batuan_ batuan, kerikil, pasir, dan lain-lain
7. Tempat yang terletak pada ketinggian tempat tertentu dan strategis untuk melihat ke keadaan sekelilingnya
Titik-titik kardinal positif prioritas kedua yaitu :
1. Areal yang jenis tanahnya tidak mudah longsor.
2. Jenis tanah tidak peka erosi, antar_ antara lain: aluvial, glei, planosol, hidromorf kelabu, dan laterit.
3. Tanah agak peka erosi, antara lain latosol
4. Tanah kurang peka erosi, antara lain brown forest soil, non-calcic brown, mediteran
5. Areal yang topografinya landai (8-15%)
6. Areal yang apabila dibuka, secar_ secara ekologis tidak menimbulkan kerusakan lingkungan fisik maupun biologis, serta secara sosio-kultural tidak mengganggu kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Titik-titik kardinal negatif prioritas pertama yaitu :
1. Areal yang jenis tanahnya sangat peka terhadap erosi, misalnya regosol, litosol, organosol, dan benzenorganosol, benzena
2. Areal yang topografinya sangat curam dengan kemiringan lebih besar dari 40 %
3. Areal yang ketinggian tempatnya lebih tinggi dari 1000 m dari permukaan laut
4. Areal yang ditetapkan oleh Pemerintah RI sebagai kawasan hutan lindung, kawasan hutan konservasi atau kawasan hutan cagar alam dan margasatwa
5. Areal yang mengandung situs sejarah dan budaya atau agama, yang ditetapkan Pemerintah RI sebagai kawasan perlindungan terhadap tempat bersejarah dan sosial budaya.
Titik-titik kardinal negatif prioritas kedua yaitu :
1. Daerah tidak produktif
2. Daerah berawa-rawa atau tanahnya lembek (payalembek paya)
3. Areal yang jenis tanahnya peka terhadap erosi, misalnya: andosol, laterit, grumusol, podsol, dan podsolik
4. Areal yang topografinya curam (25-40%)
5. Areal milik orang lain
6. Areal kawasan lindung, misalnya :
a. Kawasan lindung terhadap habitat flora dan fauna yang langka
b. Kawasan lindung terhadap sungai
7. Kawasan lindung terhadap danau
8. Kawsan lindung terhadap sumber mata air
9. Tempat-tempat yang dianggap keramat bagi masyarakat setempabagi setempat
Area yang keadaan ekologisnya kurang stabil. Apabila areal tersebut dibuka dapat menimbulkan kerusakan lingkungan terhadap daerah sekitarnya. Semua titik–titik kardinal digambarkan di atas peta perencanaan PWH, tanpa harus mempertimbangkan apakah titik titik tersebut relevan atau tidak dengan perencanaan PWH. Karena yang menjadi tujuan peletakkan titik-titik kardinal intujuan ini adalah mempermudah langkah perencanaan lebih lanjut dari segi teknis, ekonomis, ekologis, sosial dan budaya. Tempat-tempat penting yang harus diperiksa yaitu :
1. Tempat penyeberangan sungai
2. Batas rawa-rawa musiman
3. Areal dengan jenis tanah yang mudah longsor
4. Areal berbatu-batu karang
5. Sumber mata air
6. Areal yang mengandung deposit pasir dan bahan-bahan bangunan jalan hutan.
Penggambaran Titik Kordinal Positif dan Negatif di Peta Perencanaan PWH

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!